laporan dasar-dasar budidaya tanaman TINJAUAN PUSTAKA


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan organ vegetatif tanaman seperti batang yang mempunyai tunas samping (aksilar/lateral) dan mata tunas dari induk yang terpilih Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang dan daun sekaligus. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara mencangkok, okulasi, setek dan kultur jaringan.
Yang dimaksud dengan setek ialah bagian dari tubuh tanaman yang dipotong seperti akar, batang, daun dan tunas yang mampu membentuk akar dengan cepat bila ditanam. Perbanyakan dengan cara setek ini umumnya dilakukan untuk mempertahankan klon tanaman unggul, dan juga untuk mempercepat perbanyakan tanaman. Setek ada bermacam-macam antara lain : setek batang dan setek daun. Setek batang merupakan perbanyakan tanaman yang paling mudah. Setek batang berasal dari batang tanaman yang masih muda atau dari batang tanaman yang cukup tua umurnya.
Sambung pucuk adalah proses pertautan sambungan sel-sel parenkim batang atas dan bawah masing-masing mengadakan kontak langsung, saling menyatu, dan membaur. Sel parenkim tertentu mengadakan diferensiasi membentuk kambium sebagai kelanjutan dari kambium batang atas dan batang bawah yang lama. Pada akhirnya terbentuk jaringan/ pembuluh dari kambium yang baru sehingga proses translokasi hara dari batang bawah ke batang atas dan sebaliknya dapat berlangsung kembali (Ashari , 1995).
Tanaman batang atas disebut entris atau batang atas (scion). Sedangkan tanaman batang bawah disebut understrorm atau batang bawah (rootstock). Batang atas berupa potongan pucuk tanaman yang terdiri atas beberapa tunas dorman yang akan berkembang menjadi tajuk, sedangkan batang bawah akan berkembang menjadi sistem perakaran.
Dengan menggunakan setek cabang tua yang dipacu dengan hormon IAA dan IBA diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan setek. Hal ini disebabkan karena IAA dapat memacu pertunasan dan IBA dapat memacu pembentukan akar setek dan memacu pertumbuhan panjang akar.
Untuk mendapatkan hasil perbanyakan yang baik selain perlu memperhatikan media tumbuh, diperlukan zat pengatur tumbuh (zpt) untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya.
Keuntungan dan kerugian Perbanyakan Vegetatif adalah sebagai berikut:
Keuntungan
  1. lebih cepat berbuah
  2. sifat turunan sesuai dengan induk
  3. dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan
Kelemahan
  1. perakaran kurang baik
  2. lebih sulit di kerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu
  1. PERSEMAIAN
Persemaian (Nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan.
Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu.
Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam), misalnya untuk Pinus merkusii setelah tinggi semai antara 20-30 cm atau umur semai 8 – 10 bulan.
Pengadaan bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang lebih menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Selain pengawasannya mudah, penggunaan benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.
  1. Jenis persemaian.
Pada umumnya persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
  1. Persemaian sementara (Flyng nursery).
Jenis persemaian ini biasanya berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan ditanami. Persemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode panenan (bibit/semai) yaitu paling lambat hanya untuk waktu 5 tahun.
Keuntungan dan kerugian persemaian sementara adalah :
Keuntungan :
  1. Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
  2. Ongkos pengangkutan bibit murah.
  3. Kesuburan tanah tidak terlalu menjadi masalah karena persemaian selalu berpindah tempat setelah tanah menjadi miskin.
  4. Tenaga kerja sedikit sehingga mudah pengurusannya.
Kerugiannya :
  1. Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang sedikit.
  2. Ketrampilan petugas sulit ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
  3. Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
  4. Lokasi persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan.



  1. Persemaian Tetap.
Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap disuatu tempat, untuk melayani areal penanaman yang luas.
Keuntungan :
  1. Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan.
  2. Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki.
  3. Pengawasan dan pemeliharaan lebih efisien, dengan staf yang tetap dan terpilih.
  4. Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur.
  5. Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan pertumbuhannya lebih seragam
Kerugiannya :
  1. Keadaan ekologi tidak selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
  2. Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan jenis persemaian sementara.
  3. Membutuhkan biaya untuk investasi lebih tinggi dibanding persemaian sementara.
Hal ini karena untuk persemaian tetap biasanya keadaan sarana (misal jalan angkutan, bangunan-bangunan di persemaian) dan prasarana (misal: peralatan kerja/angkutan ) lebih baik kualitas dan lebih mahal harganya dibanding yang diperlukan persemaian sementara.
  1. JARAK TANAM.
Jarak tanam mencerminkan populasi tanaman, yaitu jumlah tanaman per satuan luas lahan. Jarak tanam sangat penting diperhatikan karena akan mempengaruhi derajat persaingan di dalam dan antar spesies. Makin tinggi populasi maka tingkat persaingan juga makin tinggi. Tingkat persaingan yang dialami tanaman akan mempengaruhi hasil produksi tanaman tersebut.
Jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman dan keefisienan penggunaan cahaya, juga mempengaruhi kompetisi antara tanaman dalam menggunakan air dan zat hara, dengan demikian akan mempengaruhi hasil. Dengan pemupukan berat, populasi yang lebih besar akan mendatangkan keefisienan penggunaan pupuk karena tercapainya keefisienan penggunaan cahaya. Pengaturan letak tanaman pada sebidang tanah, mempengaruhi keefisienan penggunaan cahaya. Pada umumnya penggunaan jarak tanam yang sama (equidistant plant spacing) lebih efisien daripada jarak tanam yang lain.
Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama terhadap tinggi tanaman, leaf area index, jumlah umbi per petak. Pengaturan jarak tanam yang tepat diperlukan untuk pertumbuhan dan produksi. Perlakuan jarak tanaman yang rapat menghasilkan tanaman yang lebih tinggi. Semakin rapat jarak tanam maka laju pertumbuhan tinggi tanaman akan semakin besar, akibatnya tanaman mempunyai tajuk yang tinggi. Pertumbuhan tinggi tanaman yang pesat disebabkan oleh ruang tumbuh yang sempit sehingga kompetisi cahaya antar individu semakin besar.
Variasi jarak tanam akan mempengaruhi mutu buah dan sayuran. Semakin rapat penanamannya, makin berkurang rasa. Di sayuran berupa daun, daunnya menjadi lebih lebar dan lebih tipis pada intensitas penyinaran rendah (Pantastico, 1975).
D. TRANSPLANTING
Benih disebar langsung ditempat tanam permanen (disaat seeding, sebar langsung) atau mula-mula wadah atau tempat dimana tanaman muda dapat dipindahkan (transplanting) sekali atau dua kali sebelum penanaman permanen. Penyemaian atau pembibitan ditujukan untuk menanaman bibit atau semai untuk memberikan pengaturan lingkungan yang lebih tepat, selama tahap perkecambahan yang gawat dan awal pembibitan bibit. Pembibitan merupakan bagian khusus dari pembiakan dengan biji, benih dapat dikecambahkan dahulu baik-baik semai yang berisi media, kemudian bibit kecil dipindahkan kewadah yang cocok.
Pemindahan kelapang merupakan bagian dari pembiakan biji dan pembiakan vegetatif, transplant dapat ditanamkan masih beserta tanah atau dengan akar telanjang. Penanaman dari tanaman-tanaman berakar telanjang seperti tomat, strowberi, kubis, seledri, cabai, cocok untuk cara pemindahan dengan sesin. Tanaman yang berakar itu harus ditutup dengan lumpur/ jerami untuk menghindari kekeringan. Saat pemindahan dipengaruhi keadaan cuaca, laju transpirasi yang rendah mempercepat pemuliyaan kerusakan akibat transplanting.
Pemindahan terbaik dilakukan dengan media tanah yang cukup basahnya untuk mudah ditarik tetapi tidak cukup basah menjadi lengket, sebelum dipindahkan kepala bibit tersebut dipindahkan kebedengan pembibitan. Bedengan persemaian harus telah disiapkan baik-baik. Tanah harus gembur dan bersih dari gulma. Dalam pembibitan tersebut, bibit ditanam dalam bedengan tanah atau serpihan yaitu bumbungan.
  1. PENGUKURAN INTENSITAS CAHAYA.
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari).  Pengertian intensitas disini sudah termasuk di dalamnya lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari, karena satuan waktunya menggunakan hari. Intensitas cahaya dan lamanya penyinaran mempengaruhi sifat tanaman.
Besarnya intensitas cahaya  yang diterima oleh tanaman tidak sama untuk setiap tempat dan waktu. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu :
  1. Jarak antara matahari dan bumi, misalnya pada pagi dan sore hari intensitasnya lebih rendah dari  pada siang hari karena jarak matahari lebih jauh. Juga di daerah sub tropis, intensitasnya lebih rendah dibanding daerah tropis. Demikian pula di puncak gunung intensitasnya (1,75 g.kal/cm2/menit) lebih tinggi dari pada di dataran rendah (di atas permukaan laut = 1,50 g.kal /cm2/menit).
  2. Tergantung pada musim, misalnya pada musim hujan intensitasnya lebih rendah karena radiasi matahari yang jatuh sebagian diserap awan, sedangkan pada musim kemarau pada umumnya sedikit awan sehingga intensitasnya lebih tinggi. Lamanya periode cahaya matahari atau panjang hari ditentukan oleh musim.
  3. Letak geografis, jumlah cahaya yang diterima ditentukan oleh letak lintang (latitude). Di daerah tropik jumlah energi mayahari yang dapat tertangkap kira-kira 191 kilo kalori/cm2, di daerah subtropik 120 kilo kalori/ cm2 setiap tahunnya. Di Gurun Sahara daerah tropik energi matahari yang tertangkap dapat mencapai 200 kilo kalori/cm2/tahun. Sedangkan di Samaru Nigeria Utara pada Latitude 11o utara rata-rata sebesar 17 MJ/m2 pada bulan September dan sebesar 24 MJ/m2 pada bulan maret.
Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sejauh mana berhubungan erat dengan proses fotosintesis.  Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat.  Semakin besar jumlah energi yang tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimum).
Untuk menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan intensitas cahaya penuh.  Namun demikian intensitas cahaya yang sampai pada permukaan kanopi tanaman sangat bervariasi, hal ini merupakan salah satu sebab potensi produksi tanaman aktual belum diketahui
Light Meter Adalah alat uji untuk mengukur intensitas cahaya atau mengukur jumlah cahaya yang masuk melalui alat uji ukur cahaya ini. Dalam fotografi, pengukur cahaya yang sering digunakan untuk menentukan eksposur yang tepat untuk foto. Biasanya Light Meter akan mencakup sebuah komputer, baik digital atau analog.



  1. APLIKASI PEMUPUKAN
Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, atau kesuburan tanah. Pemupukan adalah cara-cara atau metode pemberian pupuk atau bahan-bahan lain seperti bahan kapur, bahan organik, pasir ataupun tanah liat ke dalam tanah. Jadi pupuk adalah bahannya sedangkan pemupukan adalah cara pemberiannya. Pupuk banyak macam dan jenis-jenisnya serta berbeda pula sifat-sifatnya dan berbeda pula reaksi dan peranannya di dalam tanah dan tanaman. Karena hal-hal tersebut di atas agar diperoleh hasil pemupukan yang efisien dan tidak merusak akar tanaman maka perlulah diketahui sifat, macam dan jenis pupuk dan cara pemberian pupuk yang tepat.
Pupuk dapat digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai, misalnya pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah tetapi kandungan bahan organik di dalamnya sangatlah tinggi. Sedangkan pupuk anorganik adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki kandungan persentase yang tinggi. Contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP dan Gandasil
Di dalam tanah terdapat banyak organisme pengurai, baik makro maupun mikro. Pupuk organik terbentuk karena adanya kerja sama mikroorganisme pengurai dengan cuaca serta perlakuan manusia. Kegiatan organisme tanah dalam proses penguraian tersebut menjadi sangat penting dalam pembentukan pupuk organik. Sisa tumbuhan dihancurkan oleh organisme dan unsur-unsur yang sudah terurai diikat menjadi senyawa. Senyawa tersebut tentu saja harus larut dalam air sehingga mudah diabsorbsi atau diserap oleh akar tanaman. Bentuk senyawa tersebut antara lain amonium dan nitrat. Beberapa mikroorganisme penting antara lain : ganggang (mikroorganisme berklorofil), fungi (mikroorganisme tidak berklorofil yang memperoleh energi dan karbon dari bahan organik), actinomycetes (merupakan golongan mikroorganisme antara fungi dan bakteri), dan bakteri. Bakteri berperan penting dalam proses penguraian seperti proses nitrifikasi, oksidasi sulfur, dan fiksasi nitrogen. Pupuk organik sangat penting terutama karena sebagai berikut.
      1. Memperbaiki struktur tanah.
Pada waktu penguraian bahan organik oleh organisme di dalam tanah dibentuk produk yang mempunyai sifat sebagai perekat, yang lalu mengikat butir-butir pasir menjadi butiran yang lebih besar. Lagipula di dalam tanah tumbuh sistem tali-temali yang terdiri dari benang-benang jamur yang mengikat bagian tanah menjadi kesatuan.
      1. Menaikkan daya serap tanah terhadap air
Bahan organik mempunyai daya absorpsi yang besar terhadap air tanah. Karena itu pupuk organik sering kali mempunyai pengaruh positif terhadap hasil tanaman, apalagi pada musim panas yang kering.
  1. PENGUKURAN LUAS DAUN.
Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, di mana terjadi proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikan dalam bentuk bahan kering.
    1. Bagaimana pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorpsi air
Pemasukan air kedalam akar secara horizontal, maka bagian-bagian akar (dikotil) yang dilewati adalah : bulu akar, sel-sel korteks, sel-sel endodermis, sel-sel periseikel, dan akhirnya air akan sampai ke buluh kayu ( xilem ).
b.    Bagaimana hubungan antara banyaknya stomata dengan kecepatan
transpirasi
Transpirasi merupakan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan dalam bentuk uap air. Teori apapun yang menejelaskan gerak ke atas air dalam xylem harus memperhatikan volume air yang diangkut serta kecepatannya. Misalnya teori  vital yang menyebutkan bahwa perjalanan air hanya dapat terlaksana karena pertolongan sel – sel hidup, dalam hal ini adalah sel parenkim kayu dan sel jari – jari empulur yang ada di sekitar xylem
Kandungan air dalam tubuh tumbuhan, hanya 1 dari 2 % dari seluruh air digunakan untuk fotosintesis atau di dalam kegiatan  metabolic sel-sel daunnya. Sedangkan sisanya menguap melalui melalui proses yang disebut transpirasi. Pada tumbuhan, transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata., kutikula dan lentisel. Berdasarkan sarana yang digunakan tersebut maka dikenal dengan istilah transpirasi stomata., transpirasi kutikula dan transpirasi lentisel. Organ tumbuhan yang paling utama dalam melaksanakan proses transpirasi adalah daun, karena pada daun banyak dijumpai stomata yang membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral serta mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh dan mengatur turgor optimum di dalam sel.
Di samping mengeluarkan air dalam bentuk uap air, tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut hidatoda, yaitu yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu
Mekanisme Transpirasi melalui stomata :
Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah dengan stomata. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun.
Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar.
Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer.
Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Umumnya, proses pembukaan memerlukan waktu 1 jam dan penutupan berlangsung secara bertahap sepanjang sore. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba.
Terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat terlaksana.
Kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel, uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi.

0 komentar:

Poskan Komentar

anime © 2008 Template by:
SkinCorner