laporan dasar-dasar ilmutanah TEKSTUR TANAH


BAB VIII
TEKSTUR TANAH

  1. Tujuan Praktikum
Untuk menetapkan kelas terkstur tanah pada sample tanah regosol sesuai dengan segitiga USDA.
  1. Tinjauan Pustaka
Tekstur tanah adalah perbandingan nisbi dari berbagai fraksi ukuran butir utama di dalam tanah. Batasan ukuran butir fraksi tanah antara lain (USDA) :
Fraksi Diameter (mm)
Pasir sangat kasar 2,0 – 1,0
Pasir kasar 1,0 – 0,5
Pasir biasa 0,0 – 0,25
Pasir halus 0,25 – 0,10
Pasir sangat halus 0,10 – 0,05
Debu 0,05 – 0,002
Lempung kurang dari 0,002
Fraksi berdiameter 2,0 atau lebih dimasukkan sebagai fragmen batuan, khusus 2 mm – 2,5 cm termasuk fragmen kasar (coarse fragment). Tekstur merupakan sifat tanah relatif tidak berubah dibandingkan sifat tanah lainnya. Tekstur tanah menentukan tata air dalam tanah, berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air oleh tanah. Tekstur tanah mempunyai hubungan erat dengan konsistensi dan struktur tanah. Penggolongan tekstur tanah didasarkan pada perbandingan kandungan lempung, debu dan pasir yang menyusun tanah. Namun klas tekstur tanah pada umumnya diambil dari fraksi tanah yang merajai. Dari segi pedologi, tekstur tanah sangat berguna dalam menjelaskan perkembangan tanah misalnya eluviasi dan illuviasi.
Tekstur Tanah disusun dari butir-butir tanah dengan berbagai ukuran. Bagian butir tanah yang berukuran lebih dari 2 mm disebut bahan kasar tanah seperti kerikil, koral sampai batu. Bagian butir tanah yang berukuran kurang dari 2 mm disebut bahan halus tanah. Bahan halustanahdibedakanmenjadi:
1. pasir yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,05 mm sampai dengan 2 mm.
2. debu yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,002 mm sampai dengan 0,05 mm.
3. liat yaitu butir tanah yang berukuran kurang dari 0,002 mm.
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Tekstur tanah dikelompokkan dalam 12 klas tekstur. Kedua belas klas tekstur dibedakan berdasarkan prosentase kandungan pasir, debu dan liat.
C. Prinsip Kerja
a. Bahan dan alat
    1. Contoh tanah halus kering udara ( 2 mm)
    2. Gelas arloji
    3. Timbangan
    4. Beaker glass 500 ml
    5. Tabung ukur 25 ml
    6. Penangas air
    7. Corong gelas 10cm dan 15 cm
    8. 2 buah erlenmeyer 500 ml
    9. Batang kaca pengaduk
    10. Tabung sedimentasi 1000 ml
    11. Termometer
    12. Cawan penguap
    13. Kertas lakmus
b. Cara kerja
I. Fraksionasi
1. Menimbang contoh tanah sekitar 15 gram (misal = a gram). Masukkan secara kuantitatif ke alambeaker glass 500ml (butir-butir tanah yang masih menempel di wadah/alas dapat sedikit dibilas dengan air)
2. Menambahkan 50 ml aquadest, kemudiantambahkan 10ml H2O2 30%. Beaker glass ditutup dengan gelas arloji dan biarkan emalam. Paaskan di atas penangas air yang telah mendidih (beaker glass diangkat apabila ada pembuihan berlebihan dan tanah sampai meluap). Setelah reaksi mereda (5-10menit) tambahkan 15 ml H2O2 50 %, tutup kembali dengan gelas arloji dan biarkan diatas penangas air selama 10 menit
3. Setelah reaksi mereda. Celupkan lagi beaker glassbersih dari bahan organik ditandai oleh warna tanah yang lebih muda dan permukaan pasir yang bersih (sebagai petunjuk adalah reaksi percikan yang sedikit). Tambahkan 5 ml H202 50%, untuk memastikan tanah sudah bersih dari bahan organik.
4. Membersihkan butir tanah yang menempel pada gelas arloji dan tampung ke dalam beaker glass. Tambahkan 150ml aquadest dan tutup kembali dengan gelas arloji. Didihkan di atas penangas air selama 15 menit kemudian didinginkan. Bilas dinding beaker glass dengan air menggunakan batasng kaca yang diselubungi karet sampai bersih dari tanah yang menempel.
5. Menambahkan 2 ml HCl 2 untuk menghilangkan kapur, garam-garam lain dan kation-kation basa yang terjerap. Encerkan dengan air hingga volume menjadi 250 ml. biarkan reaksi antara tanah dan adam berlangsung sempurna. Periksa larutan dengan kertas lakmus biru (kertas lakmus harus berubah menjadi merah sebagai tanda adanya kelebihan asam). Tambah lagi dengan 10ml HCl 2 N jika warna kertas lakmus tidak berubah.
6. Menambahkan air hingga volume 300 ml lalu aduk hingga merata. Diamkan agar tanah mengendap dan laruta jernih diatasnya dibuang.




II. Pendispersian
  1. Memindahkan tanah dengan bantuan pancaran air secara kuantitatif ke dalam labu erlenmeyer 500 ml (volume suspensi dalam erlenmeyer tidak boleh lebih dari 250 ml). bersihkan tanah yang masih menempel dengan kuas yang basah.
  2. Menambahkan 10 ml larutan NaOH 1N dengan menggunakan tabung ukur untuk mendispersi tanah. Tutup labu erlenmeyer dengan plastik atau sumbat karet dan gojog dengan alat penggojong selama 15menit secara kuat agar dispersi sempurna.
  3. Memasukkan suspensi ke dalam tabung sedimentasi dan tambahkan air hingga volume menjadi 1000 ml, tutup rapat dan siapkan alat pemipetan dan atur hingga kecepatan penghisapan 25 ml/10-15detik.
  1. Pemipetan
  1. Menggojog tabung sedimentasi secara kuat dengan dibolak-balik selama 15 kali dengan kecepatan 2 detik bolak-balik. Letakkan tabung secara hati-hati dan amati suhu air pada beaker glass lainnya. Lihat waktu tunggu pemipetan pada daftar yang tersedia. Siapkan cawan penguap kosong yang telah ditimbang sebelum pemipetan dilakukan (misal = b gram). Pemipetan I : pipet suspensi sebanyak 25 ml pada kedalaman 20 cm untuk penetapan (lempung+debu) totel. Tuang suspensi kedalam cawan penguap kosong dan oven pada suhu 105-110 C selama 4 jam, setelah kering ditimbang (misal = c gram)
  2. Tabung sedimentasi digojog lagi untuk pemipetan II (lempung total). Amati suhu air selama 3 kali untuk menentukan waktu tunggu pemipetan II. Pipet suspensi pada kedalaman 5 cm dan telah ditimbang (misal= d gram). Oven pada suhu 105-110C selama jam dan timbang setelah kering (misal = e gram).




D. Perhitungan
1. Analisa granuler
  1. Berat contoh tanah = 15 g
  2. Berat cawan kosong pemepetan I = 9,534 g
  3. Berat pemepetan I + cawan = 9,666 g
  4. Berat cawan kosong pemipetan II = 9,491 g
  5. Berat pemipetan II + cawan = 9,572 g
  6. Kadar BO = 4,4 %
  7. Kadar CaCO3 = 12,18 %
  8. Kadar lengas = 2,55 %
Kadar debu = (c-b-e-d)
=(9,666 – 9,534 – 9,572 + 9,491)
= 0,051
=
=
=
=
= 40 . 8,21
= 328,4 %
= 0,051 x 328,4
= 16,74 %
Kadar lempung = (e-d-0,01)
= (9,572 - 9,491 - 0,01)
= 0,071
=
=
=
=
= 40 . 8,21
= 328,4 %
= 0,071 x 328,4
= 23,31 %
Kadar pasir = (100- kadar debu – kadar lempung) %
= 100 - 16,74 – 23,31
= 59,95 %
E. Pembahasan
Dari hasil pengamatan di laboratorium diperoleh kadar pasir sebesar 59,95 %, kadar lempung 23,31 %, dan kadar debu 16,74 %. Dan dalam penilaian segitiga USDA didapatkan tanah regosol ini mempunyai tekstur pasir berlempung. Tekstur tanah merupakan sifat menggambarkan kasar halusnya tanah dalam perabaan yang ditentukan oleh perbandingan berat fraksi-fraksi penyusunnya. Suatu fraksi yang dominan pada suatu tanah akan menentukan ciri dan jenis yang bersangkutan. Fraksi pasir mendominasi karena tanah regosol yang berasal dari abu vulkanik merapi dan perkembangan tanahnya belum lanjut atau masih muda.
F. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan di laboratorium diperoleh kadar pasir sebesar 59,95 %, kadar lempung 23,31 %, dan kadar debu 16,74 %. Dan dalam penilaian segitiga USDA didapatkan tanah regosol ini mempunyai tekstur pasir berlempung.
G. Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu tanah Fakultas Pertanian universitas Bengkulu. Bengkulu.


Darmawijaya, Isa. 1990. Klasifikasi tanah. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
atau download fersi WORD di link ini: download

0 komentar:

Poskan Komentar

anime © 2008 Template by:
SkinCorner